Tanya Jawab Hukum IslamHukum Bekerja Bersama Teman Yang Menghina Islam

Download File Islami
File Islami
Tanya Jawab Terbaru
Kategori Tanya-Jawab
Our Network
Hukum Bekerja Bersama Teman Yang Menghina Islam Published on Tuesday, May 1, 2012 by

Pertanyaan : apa hukum bekerja di perusahaan bersama orang (yang mengaku muslim, -pent) yang tidak shaum dan tidak shalat,  dia juga menolak bahwa hijab hukumnya wajib dan mencelanya. Saya juga pernah satu kali mendengar dia mencela ‘Aisyah (istri nabi, -pent) radhiyAllahu ‘Anda. Apa hukumnya, terutama karena dia bukan saudara sedarah dengan saya.

Jawaban : Alhamdulillaah.

Pertama :

Tindakan dari orang yang Anda tanyakan tersebut merupakan kekufuran dan kemurtadan, dan kami heran bahwa ia mengaku menjadi seorang Muslim jika begini keadaannya. Tidak shalat adalah kekufuran besar, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah dan oleh ijma’ sahabat (radhiyAllahu ‘anhum). Berkenaan dengan jilbab wanita, jika apa yang dimaksud adalah menutupi wajah (cadar), ada perbedaan pendapat di antara para ulama yang mengenainya. Pandangan yang lebih benar adalah bahwa itu wajib untuk semua wanita dan bahwa tidak berlaku hanya untuk isteri-isteri nabi (radhiyAllahu ‘anhum).

Syaikh Shalih ibn Fauzaan al-Fauzan (hafidzhahullah) mengatakan :

Berkenaan dengan cadar, menutupi wajah adalah wajib menurut pendapat ilmiah yang benar, dan ini adalah apa yang didukung oleh dalil-dalil yang shahih, karena Allah (berfirman makna):

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka” [QS al-Nur 24:31].

Dan Allah berfirman tentang isteri-isteri nabi (radhiyAllahu ‘Anhum):

“ Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” [QSal-Ahzaab 33:53].

Fakta bahwa ayat tersebut berbicara tentang isteri-isteri nabi (radhiyAllahu ‘Anhum) tidak berarti bahwa hukum tersebut tidak berlaku untuk wanita Muslim, karena alasannya bersifat umum, yaitu “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka””

Jadi alasannya bersifat umum dan berlaku untuk isteri-isteri nabi (radhiyAllahu ‘Anhum) dan perempuan lain. Kesucian hati diperlukan, karena Allah mengatakan dalam ayat lain :

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” [QS al-Ahzaab 33:59].

Akhir dari Fataawa al-Shaykh al-Fawzaan (4/242, 243; pertanyaan no. 250).

# Untuk info lebih lengkap, lihat jawaban pertanyaan nomor 11774.

Tetapi jika apa yang dimaksud dengan hijab adalah menutupi kepala (rambut, -pent), maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa itu wajib. Penolakannya untuk kedua hal tersebut, membuat mengolok-olok tentang keduanya,  adalah kemurtadan dari Islam, karena meskipun menutupi wajah tidak wajib menurut beberapa ulama, mereka telah sepakat bahwa hal itu disyari’atkan dalam Islam dan bahwa itu adalah bagian dari agama Allah, jadi menyangkal dan mengolok-olok itu adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Tidak ada alasan sama sekali untuk orang yangz indiq ini untuk mengolok-olok dari ibu kaum Mukminin ‘ Aisyah (radhiyAllahu ‘Anha), bahkan itu adalah indikasi dari apa yang ada di dalam hatinya dari kemunafikan dan bid’ah, yang keluar dari lisannya. ‘Aisyah adalah ibu dari orang-orang yang beriman dan istri dari Nabi (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), yang kesuciannya dinyatakan oleh Allah dalam ayat-ayat yang akan dibaca sampai hari kiamat. Orang yang mengolok-olok beliau pada hakikatnya mengejek suaminya, yaitu Nabi Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam, dan seseorang yang menyangkal bahwa dia adalah ibu dari orang-orang mukmin adalah menempatkan dirinya di luar lingkaran mereka (orang yang beriman, – pent), tetapi ia tidak membahayakan ‘Aisyah sama sekali.

Kedua:

Jika hal ini terjadi dengan kerabat, maka ia harus diberitahu bahwa dia melakukan sesuatu yang menyiratkan bahwa ia adalah murtad, dan bahwa dia harus bertobat dan kembali ke agama. Jika ia bertemu dengan Allah dalam keadaan ini, ia tidak akan bertemu Allah sebagai seorang Muslim.

Apa yang harus Anda lakukan-setelah menasihati dia- adalah hindari dirinya dan waspadalah terhadap dia, kecuali seseorang yang ingin duduk dengan dia memiliki tingkat pengetahuan yang cukup untuk membantah kekufurannya. Teman-temannya harus berhati-hati dari kejahatan dirinya, dan menegakkan hubungan silaturahmi dengannya tidaklah wajib, bahkan tidak diizinkan untuk memulai memberi salam kepadanya.

Allah berfirman : “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil’.” [QS al-Qasas 28:55].

Syaikh ‘Abdurrahmaan as-Sa’di (rahimahullah) berkata :

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat” dari orang yang jahil kepada mereka, “mereka berkata” (perkataan hamba-hamba Ar-Rahmaan) “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu”, yaitu setiap orang akan dibalas dengan perbuatan yang dilakukan oleh dirinya, dan dia tidak akan membawa beban orang lain sedikit pun. Hal ini maksudnya bahwa mereka adalah tidak bersalah terkait dengan apa “laghw” (perbuataan sia-sia) , kedustaan dan omong kosong yang dilakukan orang-orang yang jahil.

“Kesejahteraan atas dirimu”, yakni engkau tidak akan mendengar apa pun dari kami kecuali perkataan yang baik, dan kami tidak akan meladeni kalian karena kalian tidak mengerti. Bahkan jika kalian membiarkan diri kalian sendiri untuk terlibat di dalam pembicaraan yang rendah ini, kami mendeklarasikan diri kami untuk berada di atasnya (tidak ikut berbicara rendah, -pent) dan kami berlindung untuk tidak terlibat dan di dalamnya.  ‘Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”, dalam bentuk apa pun.

Tafseer al-Sa’di (p. 620)

Para ulama Lajnah Daa-imah (Komite Tetap Untuk Riset dan Fatwa) ditanya :

Bolehkah saya duduk-duduk dengan orang yang tidak shalat?

Mereka menjawab :

Orang yang tidak menjalankan shalat dengan sengaja dan menolak bahwa hukumnya adalah wajib, maka dia adalah orang yang kafir, menurut kesepakatan para ulama. Jika dia tidak shalat karena dia tidak mengindahkan dan malas, maka dia adalah kafir, menurut pendapat ulama yang lebih kuat. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan untuk duduk-duduk dengan orang-orang ini, bahkan mereka harus di-boikot dan dijauhi, setelah dijelaskan kepada mereka bahwa meninggalkan shalat adalah kufur, jika mereka adalah orang yang tidak tahu tentang hukumnya.

Diriwayatkan dalah hadits shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Perjanjian yang memisahkan antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat, barang siapa yang tidak melakukan shalat maka dia adalah kafir”. Dan diriwayatkan juga dalam hadits shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Antara seseorang dan kekafiran dan syirik ada pembatas, yaitu meninggalkan shalat” [HR Muslim]. Ini mencakup orang yang menolak bahwa hukum shalat adalah wajib, dan seseorang yang tidak melakukannya karena kemalasan.

Shaykh ‘Abd al-‘Azeez ibn Baaz,
Shaykh ‘Abd al-Razzaaq ‘Afeefi,
Shaykh ‘Abd-Allaah ibn Ghadyaan.
Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah (12/374, 375)

Para ulama Lajnah Daa-imah (Komite Tetap Untuk Riset dan Fatwa) ditanya :

Bolehkah memberikan salam kepada orang yang tidak melaksanakan shalat?

Mereka menjawab :

Orang yang tidak melaksanakan shalat karena menolak bahwa hukumnya wajib adalah seorang yang kafir menurut ijma’ ulama, dan seseorang yang tidak melakukannya karena kemalasan, akan tetapi dia tidak menolak bahwa hukumnya adalah wajib maka dia kafir, menurut pendapat yang kuat dari para ulama. Jadi, tidak diperbolehkan untuk mengucapkan salam kepadanya, atau untuk membalas salamnya jika dia menyapamu dengan salam, sebab dia dianggap sebagai seorang yang  murtad dari Islam.

Shaykh ‘Abd al-‘Azeez ibn Baaz,
Shaykh ‘Abd al-Razzaaq ‘Afeefi,
Shaykh ‘Abd-Allaah ibn Ghadyaan,
Shaykh ‘Abd-Allaah ibn Qa’ood.
Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah (24/141, 142)

Para ulama Lajnah Daa-imah (Komite Tetap Untuk Riset dan Fatwa) ditanya :

Seseorang yang mengolok-olok agama Islam atau Sunnah yang dibuktikan berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (shahih, -pent), seperti membiatkan jenggot tumbuh, memendekkan celana di atas mata kaki atau hingga setengah betis, jika dia tahu bahwa hal itu adalah terbukti (benar berasal dari Nabi, -pent), maka dia adalah kafir. Seseorang yang menghina muslim dan mengolok-olok dirinya dikarenakan dia (yang diolok-olok, -pent) berpegang kepada Islam adalah seorang yang kafir, karena Allah berfirman:

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” [QS at-Taubah 9:65-66]

Shaykh ‘Abd al-‘Azeez ibn Baaz,
Shaykh ‘Abd al-Razzaaq ‘Afeefi,
Shaykh ‘Abd-Allaah ibn Ghadyaan,
Shaykh ‘Abd-Allaah ibn Qa’ood.
Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah (2/43-44).

Syaikh ‘Abd al-‘Azeez ibn Baaz (rahimahullah) mengatakan :

Apa yang harus engkau lakukan ialah menjauhi seseorang yang tidak shalat, dan memutuskan hubungan dengannya dan, dan tidak memenuhi undangannya, sampai dia bertaubat kepada Allah dari berbuat hal tersebut. Akan tetapi engkau juga harus menasehatinya dan mengajaknya kepada kebenaran, dan memperingatkan dia dari konsekuensi meninggalkan shalat di dunia ini dan di akhirat kelak, dengan harapan bahwa dia akan bertaubat dan bahwa Allah akan menerima taubatnya.

Fataawa al-Shaykh Ibn Baaz (10/266)

Shaykh Saalih ibn Fawzaan al-Fawzaan (hafizhahullah) ditanya:

Bolehkan untuk saya duduk-duduk dan makan dan minum bersama seseorang yang tidak shalat dan bersikukuh untuk tidak shalat?

Beliau menjawab:

Tidak diperbolehkan bagi dirimu untuk duduk dengannya, dan makan dan minum bersama dirinya, sampai engkau menaseharinya dan menegur dirinya, dan engkau berharap bahwa Allah akan memberinya hidayah melalui perantaraan engkau. Jika engkau duduk dengannya, maka inilah (menasehati, -pent) yang harus engkau lakukan dengannya, karena ini termasuk dalam nahi munkar dan berdakwah kepada Allah, dan mudah-mudahan Allah memberinya hidayah melalui perantaraan tanganmu.

Tapi jika engkau duduk bersama dirinya dan makan dan minum tanpa memperingatkan dirinya, dan dia tetap bersikukuh untuk tidak melaksanakan shalat, atau tetap mengerjakan dosa-dosa besar lainnya, maka tidak diperbolehkan bagimu untuk bergabung dengan dirinya. Allah telah mengutuk Bani Israil karena sesuatu yang mirip dengan hal ini, Allah berfirman :

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” [QS al-Maa’idah 5:78-79].

Dalam tafsir mengenai ayat ini, diriwayatkan bahwa saat salah seorang dari mereka [bani israil] jika melihat orang lain melakukan dosa dia mengingatkannya, lalu ketika dia bertemu dengannya di hari berikutnya dan dia melihat orang tersebut masih berbuat dosa, dia tidak menasehatinya, dan makan dan minum dan duduk dengannya. Saat Allah melihat bahwa mereka melakukan hal tersebut, maka Allah jadikan mereka saling bermusuhan satu dengan yang lainnya, dan mengutuk mereka melalui lisan Nabi-Nabi mereka.

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memperingatkan kita dari melakukan hal yang seperti itu, agar tidak menimpa kita apa yang menimpa mereka.

Akhir kutipan dari  Fataawa al-Shaykh al-Fawzaan (2/246, pertanyaan no. 215)

Lihat juga jawaban pertanyaan no. 4420 and 47425.

Allahu A’lam. Islam Q&A.

Diterjemahkan dari : www.islam-qa.com, pertanyaan no 115156